Ayam Goreng Praktis dan Yummy Ala LinRaNa Mom

maap ya… gak punya poto ayam goreng ^_^

Untuk ibu-ibu yang sok rempong kayak saya ni, memasak praktis harus bisa.  Biar gak terlalu lama di dapur, dan bau keringet (uhuk..).

Nah saya punya resep praktis bikin ayam goreng yang enak dan mudah ni. Saya lupa dapat resep ayam goreng ini darimana. Cekidot ya untuk bahan dan cara masaknya:

Bahannya: 

  • Ayam 1/2 Kg, cuci bersih
  • Bawang Putih 2 butir yang besar
  • Ketumbar 1/2 sachet (bukan yang bubuk ya)
  • Garam (secukupnya)
  • Minyak untuk menggoreng secukupnya

Cara membuatnya:

Haluskan bawang putih dan ketumbar.  Kemudian lumuri ayam dengan bumbu yang telah dihaluskan dan garam kira-kira 10 – 15 menit.

Goreng hingga kecoklatan dan matang.

tadaaaa… ayam goreng simple, praktis, dan enak plus yummy siap dinikmati… mudah kan…

stt.. kalo ayam gorengnya dimakan panas-panas lebih enak lho (jangan ditiup ya, lebih baik dikipas, sunnah rosul)

Iklan

My Lintang

My lintang

LinRana Mom (2)

Abang L itu anak yang aktif, super duper aktif. Sampai-sampai saya sebagai ibunya capek lihatnya. Usil juga, adek-adek sering dibikin nangis sama abang.

Tapi abang L juga baik hati, suka nolong mama, dan kalau moodnya lagi baik, mau ngemong adek-adek tanpa disuruh mama.

Semalam, abang L bantuin mama ngurusin cucian, padahal mama tau, abang L udah ngantuk banget.

Pagi ini abang ngemong adek Rahman yang nangis karena ditinggal bunda dan oppung ke pasar. Dan ajak maen adek Nauman yang nangis karena tadi dimarahin mama, karena pukul abang Rahman.

Abang L yang suka buku, tapi gak suka belajar. Yang cuekin buku pelajaran, tapi suka hafalan ayat, pinter matematikanya.

Abang L yang suka burung Ababil dan cerita raja Abraha dan pasukan bergajah.

Abang L yang hari ini suka ngeberantakin mainan, tapi besoknya malah bersih-bersih.

Abang L yang suka ngajak adek-adek loncat-loncat di tempat tidur yang baru aja mama beresin (bikin mama melotot).

Abang L yang kalo udah gede pengen jadi anggota TNI Angkatan Udara, biar bisa nyetir pesawat tempur (sebelumnya pengen jadi pilot, trus ganti jadi polisi, sekarang TNI Angkatan Udara).

Abang L yang pinter adzan, walaupun adek tidur, teteup we adzan sekenceng-kencengnya (emak cuma bisa elus dada).

Abang L yang udah besar sekarang, udah bisa jadi tempat curhatan mama (lap air mata).

Mama sayang sama Abang L, cinta pertama mama…..

Ramadhan 1439 H / 2018 – Hari pertama

Hari pertama ramadhan kami, kami lalui di jekadah. Masih numpang liburan ikut papa lintang.
Semalam, teraweh pertama, kami jamaah bertiga di kamar hotel. Mama, papa, dan Lintang. Adek Nauman dah bobok selepas maghrib tadi.
.
Baru sholat yang kedua, Lintang dah merasa ngantuk dan rewel. Jadilah papa nerusin sendiri terawehnya, emaknya keloni nak lajang tercintah modom.
.
Emaknya pun sampe ketiduran. Kebangun, wudhu lagi, sambung lagi sholat teraweh yang tadi ter pause. Lanjut baca quran menamatkan juz 27. Tiga juz lg, awak dah bisa ikut lembaran baru tantangan ODOJ by @hijrah.ip

Sahur pertama

Kami bangun jam 3 dini hari untuk sahur ke restoran hotel di lantai satu. Membangunkan dan mengajak Lintang untuk sahur merupakan drama tersendiri. Padahal dah di sounding dari jauh hari untuk pelaksanaan sahur ini. Sampe tadi malam pun doi masih semangat untuk ikutan bangun sahur besok.

Tapi… janji janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi #eh

Walaupun bangun, dan ikut turun ke bawah untuk sahur, tapi diwarnai dengan rengekan “masih ngantuk”, merajuk. Di restoran si anak gak mau makan. (Lintang ikut turun juga karena takut ditinggal sendirian di kamar 😂).

Gakpapa lah… Emak maklum, tahun ini adalah pertama kali beliau ikut puasa.. masih latihan, semoga dimudahkan Allah ya nak..

Pagi pertama Ramadhan, mendung untuk daerah Tebet.

KulWap: Talents Mapping

*”Mengenal Bakat, Agar Anak Semakin Hebat”*
Oleh : Fitrianingsih, S.S. (Fitri iing)
.
Ayah dan Bunda,
Ada yang pernah menonton film Coco? Film animasi besutan Pixar ini berkisah tentang perjalanan seorang anak bernama Miguel dalam menemukan jati dirinya. Maksud hati ingin memperjuangkan hal yang disukainya—bermusik, ia justru mendapat tentangan dari keluarga besar. Sebagai bagaian dari keluarga pengrajin sepatu, ia _digadang-gadang_ menjadi penerus bisnis ini.

Sejak kecil ia dididik dengan aneka keterampilan menjadi seorang pengrajin. Bagaimana dengan musik? Tentu saja keluarga melarang keras, diantara sebab utamanya adalah adanya trauma masa lalu dengan kakek buyut Miguel yang merupakan seorang pemusik. Konflik terbesar yang disajikan dalam film ini adalah tekanan yang dialami seorang Miguel yang sangat suka bermusik—bahkan digambarkan ia dapat menguasai berbagai keterampilan bermain gitar secara otodidak, menghadapi persepsi keluarganya dan menuntut Miguel untuk meninggalkan pilihan yang disenanginya tersebut.

Ayah Bunda,
Barangkali Coco ‘hanyalah’ sebuah film fiktif. Akan tetapi, tidakkah kita menyaksikan Miguel-Miguel lain di sekitar kita? Seorang anak yang dijamin Allah terlahir hebat sebagai bibit unggul, terlalu dini kita menuntutnya melakukan ini dan itu yang, barangkali, sebenarnya tidak benar-benar perlu. Berdalih agar anak sukses, kita menjejalkan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang (menurut kita) penting bagi masa depannya. Tak jarang kita menitipkan mimpi-mimpi yang belum berhasil kita raih kepadanya. Tak jarang, apa yang kita pilihkan untuk anak adalah antitesa dari pengalaman buruk kita di masa lalu. Salah? Tidak sepenuhnya. Akan tetapi, bekal asumsinya ini yang perlu kita benahi kembali.

Ayah dan Bunda,
Tidakkah kita ingat bahwa setiap anak terlahir unik dan special? Bahwa ia Allah ciptakan untuk ‘tugas hidup’yang juga special? Bahkan kita mengulang-ulang kalimat kutipan _”didiklah anak sesuai zamannya”_. Apakah maksudnya?

Saat ini kita membayangkan akan memilihkan anak kita bersekolah di sekolah favorit—terbaik menurut kita. Memilihkan berbagai ekstrakurikuler dan kursus yang kita harapkan akan membekali ia dengan bakat-bakat positif. Begitukah definisi mendidik anak untuk zamannya? Yang penting anak bisa menguasai berbagai keterampilan di dunia digital. Sesederhana itukah?

*Konsep Bakat dan Keunikan Manusia*

Ayah dan Bunda,
Allah ciptakan diri kita dan anak-anak kita berbeda dengan manusia lainnya. Apakah Allah menciptakan keunikan ini dengan sia-sia? Tentu tidak. Tentu ada ‘maksud’ tertentu dari keunikan ini. Ada sifat-sifat yang melekat pada diri manusia bahkan sejak anak dilahirkan. Tugas kita adalah menggali, mencari tahu manakah sifat-sifat itu yang Allah design untuk kebermanfaatan di dunia ini. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk yang lainnya? Maka mendidik sesuai jamannya, sejatinya adalah proses menggali kekuatan anak untuk menjalankan peran hidup sebaik-baiknya di zamannya kelak. Sebagian keterampilan bisa jadi akan sangat diperlukan, sebagian yang lain juga diperlukan sampai kadar tertentu, dan sisanya (mungkin saja) tidak. Dan kebutuhan ini tentu berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya, sebab peran hidup yang akan dijalani pun unik, berbeda satu sama lain.

Ada anak yang memiliki bekal keterampilan fisik-indrawi seperti bermain music, bernyanyi, menari, dan sebagainya. Akan tetapi bagaimana yang tidak memiliki semacamnya? Apakah berarti ia tidak berbakat? Inilah kelemahan definisi bakat yang dipahami oleh sebagian orang. Pada kenyataanya, banyak anak yang memiliki sifat baik dalam dirinya, juga merupakan bakat. Tugas orangtua adalah menstimulasinya agar bekal yang tadinya berupa ‘sifat’, dapat mewujud menjadi aktivitas produktif yang dapat dikembangkan untuk kebermanfaatan.

Ayah dan Bunda,
Barangkali saat ini kita terlanjur jauh-jauh melihat kanan kiri, depan belakang, untuk mencari bakat apa yang cocok bagi anak-anak kita. Mengapa tidak kita ubah arahnya dengan melihat ‘ke dalam’? Bekal itu sudah ada, unggul sebagai sebuah fitrah sejak lahirnya. Apa yang menutup mata kita sehingga kita ‘merasa’belum bisa menemukannya?
Inilah pentingnya bagi kita—para orangtua—untuk belajar memahami konsep bakat dalam mendampingi anak-anak kita. Memahami konsep bakat akan membuat kita lebih rileks dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Sebab sejatinya *bibit unggul itu sudah ada*. Ia hebat sejak lahirnya. PR bagi kita adalah, mencari cara untuk menggali, menemukan, serta menumbuhkannya agar semakin kuat, semakin hebat. Sederhana bukan?

*Lalu bagaimana caranya?*

Ayah Bunda,
Saat ini di sekitar kita banyak beredar aneka tools untuk memetakan bakat anak. Dari yang gratisan sampai berbayar, dari yang bisa dilakukan _sejak dini_ ataupun yang mengusung ide _saat yang tepat_. Masing-masing tentu memiliki kelemahan dan keunggulan. Namun lebih dari itu semua, yang terpenting adalah bekal kita untuk mendampingi anak menumbuh kembangkan bakat dan potensi positifnya. Orang tua yang teredukasi merupakan bekal yang paling berharga melebihi tools pemetaan bakat apapun.

Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh disinilah kita akan memulainya. Kita perlu belajar memahami apa itu bakat, mengapa ia penting untuk kita pelajari. Kita juga perlu belajar cara mengenali bakat anak. Kita perlu mengetahui tahapan demi tahapan untuk menguatkannya. Hingga akhirnya, tugas kita adalah mengantarkan mereka menuju peran hidupnya, berdasarkan bakat yang sudah tertumbuhkan dengan baik.

Selamat belajar (kembali), Ayah Bunda! Semoga dengannya, mendidik anak menjadi sebuah proses yang menyenangkan, rileks, dan tentu saja… menghebatkan

  1. Febby Oktavianty

Bagaimana cara mengasah bakatnya utk disesuaikan dg sesuatu yg berguna dan terarah? (Misalnya bakat menggambar,musik,menyanyi atau handycraft) di daerah terpencil? Tdk ada tmp2 les khusus

Betul sekali bunda Febby. Salah satu kaidah pengembangan bakat adalah bahwa salah satu tujuannya, potensi tersebut berkembang menjadi sesuatu yg bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Untuk saat ini, dunia yg sudah sangat terhubung dg teknologi memudahkan kita memfasilitasi (apapun) bakat anak dengan mentoring/course jarak jauh. Misalnya seperti yang sedang kita lakukan saat ini. Hanya saja, untuk beberapa hal yg sifatnya skill, saya kira ananda tetap perlu tatap muka dg seorang guru meski tidak seintensif dalam jarak dekat. Ada seorang kawan saya yang putranya menekuni videografi memiliki jadwal kelas online rutin (waktu itu via skype) dg gurunya yg berjarak ratusan kilometer dari rumah. Dan tetap ada jadwal tatap muka langsung setiap 5-6 bulan sekali. Intinya, akses sudah banyak terbuka, tinggal bagaimana kita menyiasati kondisi masing-masing. Sebagai orangtua, Bunda perlu membangun jejaring komunitas yg luas dan semisi, untuk lebih mudah terhubung dengan sumber-sumber tersebut. ✅
[12/28/2017, 8:24 PM] Desi BBA Online: 2. Nuryani

1. bagaimana cara membedakan antara bakat dan hobby.
2. saya masih sering terjebak dg omongan orang. menurut saya, bakat anak itu (misal) nyanyi, tapi menurut orang, nyanyi itu sesuatu yg nggak penting. bagaimana caranya ya, agar meyakinkan diri agar tetap dg keyakinan dg diri kita. mksih

2. Bunda Nuryani yg baik,
dalam bahasa bakat kita mengenal skema 4E dalam pengembangan bakat seseorang.

E #1 Enjoy
E #2 Easy
E #3 Excellent
E #4 Earn

Proses stimulasi bakat berawal dari menggali aktivitas anak yang sangat dinikmati anak (Enjoy), dan baginya termasuk aktivitas yg mudah dikuasai (Easy), lalu PR berikutnya adalah memfasilitasi aktivitas 2E tersebut ke tahapan yg berikutnya: Excellent. Maksudnya, jika kita sudah menemukan aktivitas yg anak easy dan enjoy melakukannya, tugas kita adalah mengikhtiarkan agar aktivitas tersebut tak sekadar *bisa* dilakukan, tapi sebisa mungkin kita latihkan (dg kursus, magang dsb) hingga anak *mahir* melakukannya. Disitulah nantinya ia akan menjadikan aktivitas tersebut sebagai sesuatu yg bermanfaat (Earn). Bermanfaat ini tidak sekadar yg menghasilkan keuntungan materiil yaa.. tetapi makna kemanfaatan yg luas.

Menjawab pertanyaan no.1, hobi seseorang pada umumnya merupakan aktivitas yg (maksimal) hanya memenuhi kaidah Enjoy, Easy, dan Excellent saja–tanpa earn. Atau dalam banyak kasus, seorang anak memiliki kecenderungan pada hobi tertentu (=minat) lalu kemudian enjoy, tetapi dia belum tentu easy melakukannya, sehingga untuk sampai pada fase Excellent dan Earn membutuhkan energi ekstra dan jarang sekali yg melakukannya.

Menjawab pertanyaan kedua, seharusnya kita tidak perlu khawatir, sebab orientasi pengembangan bakat adalah sampai sebuah aktivitas produktif yg menjadi kekuatan seseorang, mencapai fase Excellent (mahir) sehingga bisa Earning (bermanfaat). Kalau sudah begitu, bukankah hal apapun bisa menjadi penting? 😊✅

[12/28/2017, 8:28 PM] Desi BBA Online: 3. Sukma Meganingrum

Assalamualaikum bunda Hana,

Menarik sekali ini topiknya dan memang sangat dibutuhkan oleh ibu pembelajar seperti saya. Saya masih belum bisa menemukan bakat anak saya. Baru sampai tahap sepertinya. Belum bisa identifikasi.

Yang paling digemari anak saya sejauh ini adalah bermain dengan motorik kasar, memasak dan juga senang ketika diajak membuat kerajinan. Apakah itu bisa dikatakan bakat?

3.Bunda Sukma, bisa dilihat jawaban saya pada pertanyaan nomor 2 (Bunda Nuryani) tentang skema 4E yaa. Untuk memetakan bakat, kita akan selalu memulai dengan mengamati *aktivitas mana yg anak Enjoy dan Easy melakukannya*. Kedua kriteria tersebut harus muncul bersamaan, dan berulang-ulang. Jika sudah konsisten, bolehlah kita list beberapa aktivitas tersebut, lalu kita fasilitasi lebih lanjut. ✅

[12/28/2017, 8:30 PM] Desi BBA Online: 4. Ainur

Assalamualaikum bunda
Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk buah hatinya, ketika orang tua memfasilitasi anak sejak dini dengan memberikan beberapa mainan edukasi, buku² yang mungkin akan jadi sebuah hobi mereka ketika besar untuk membaca, apakah hal itu termasuk memaksakan kehendak orang tua atau salah satu cara menggali bakat ananda?
Mohon pencerahannya 🙏🏻
Terimakasih

4.Bunda Ainur yth,
Saya sepakat, tentu setiap orangtua menginginkan yg terbaik untuk anak. Untuk mengetahui apakah yg orangtua lakukan termasuk ‘memaksakan’ atau tidak, hendaknya kita membuka mata, telinga, hati dan pikiran kita lebar-lebar saat mengamati anak-anak.

_Adakah binar di matanya?_

Sebab setiap anak terlahir fitrah, dg semangat belajar yg luar biasa.

Sering-seringlah mendengarkan *feedback* dari anak, apakah dia suka? apakah dia menikmatinya?

Terkait stimulasi apapun, selama prosesnya menyenangkan (baik bagi anak maupun ibunda), dan keduanya bahagia menjalaninya, mengapa tidak? 😊✅

[12/28/2017, 8:35 PM] Desi BBA Online: 5. Khodijah

Bagai mn cara memahami bakat anak?
Saya seorang guru tahfid..3 x dlm sehari saya menerima setoran hafalan santriwati, putri kedua saya 4,5 thn sering menirukan hafalan santriwati saya krn ikut saya ktika saya menerima setoran..tapi krn tiap kali saya ajak hafalan atau saya benarkan hafalan ny putri saya tidak mau..jd klo sering dia melafalkan ayat quran dari al fatihah nanti pindah pindah ke surat surat lain, ,.apakah tahfid merupakan bakat putri kedua saya? Klo iya bagai mn cara mengasah nya?

5. Maasya Allah, Baarakallahu fikum Bunda Khadijah.

Menghafal alquran (juga membaca, berusaha memahami dan mengamalkannya), adalah tuntunan agama yg seyogyanya kita amalkan sebaik-baiknya.

Pertanyaannya, apakah kemudian semua muslim harus menghafal 30 juz alquran *dengan cepat*? Tentu kita sepakat tidak demikian.

Silakan kebiasaan baik ini terus dilakukan, tetapi untuk menjadi seorang ulama alquran, misalnya, dibutuhkan kemampuan khusus diantaranya kecepatan menghafal, kekuatan hafalan, kemampuan untuk ekstra fokus dll, yg tentu tidak semua orang memilikinya. Disinilah peran bakat, dimana (mungkin) ada orang-orang yg Allah bekali kemampuan khusus untuk mencapai derajat tersebut.

Jika ananda masih sangat belia, saya kira tetap penting untuk mengajak anak berinteraksi intensif dg alquran– termasuk menghafalkannya, tentu dg mengedepankan adab2 mendidik yang sejalan dg fitrah anak. Di samping itu, perlu juga terus menggali, mengamati, barangkali ada bakat-bakat lain yg Allah bekalkan kepadanya, yg nantinya akan menunjang misi hidup spesifiknya dg tetap berpedoman dg alquran yg dipelajarinya. Allahu a’lam. ✅
Silakan kebiasaan baik ini terus dilakukan, tetapi untuk menjadi seorang ulama alquran, misalnya, dibutuhkan kemampuan khusus diantaranya kecepatan menghafal, kekuatan hafalan, kemampuan untuk ekstra fokus dll, yg tentu tidak semua orang memilikinya. Disinilah peran bakat, dimana ( *insya Allah* ) ada orang-orang yg Allah bekali kemampuan khusus untuk mencapai derajat tersebut.

[12/28/2017, 8:40 PM] Desi BBA Online: 6. Peni Hastuti

Tanya:
1. Sejak anak usia berapa ortu bisa mulai menggali bakatnya?
2. Bagaimana memfasilitasi bakat anak yg jarak usianya (kakak-adik) dekat?
3. Bagaimana memfasilitasi bakat anak dg ortu (ayah ibu) bekerja shg waktu dengan anak amat terbatas?

Bunda Iing, terima kasih atas jawabannya. Saya baru teringat tentang hobinya, dia suka bercerita. Mendongeng, kalau dikasih kesempatan dia suka sekali bercerita, bukan hanya tentang aktifitasnya, tapi yang ada diimajinasinya. Suka gantiin emaknya mendongengvuntuk adeknya. Apakah hal itu bisa dimasukkan ke kategori bakat ya bunda. Karena dia Enjoy dan Easy. Kalau iya bagaimana melatihnya ya bunda.

Terima kasih

Terima kasih Bunda Peni 😊,

(1) Pengamatan pada dasarnya bisa dimulai sejak lahir, dan tidak ada batasan khusus mengenai waktu berakhirnya. Akan tetapi kita bisa menggunakan beberapa patokan rentang usia untuk memudahkan kita dalam melakukan pendampingan, misal 0-7, 7-10, 10-14, 14 ke atas. Diantara kaidah dasar yg saya yakini dalam fasilitasi bakat adalah, *mulailah mengamati sejak dini, tetapi jangan menyimpulkan terlalu dini*. Butuh data dan peta yg cukup, untuk menghindari kesalahan dalam interpretasi.

(2) Pada fase awal pemetaan bakat, kita bisa melakukan stimulasi dg aktivitas-aktivitas yg sama untuk kakak dan adik, apalagi jika usianya berdekatan.

Akan tetapi jika kita sudah mulai memetakan aktivitas 2E-nya ( _silakan lihat kembali jawaban pertanyaan 1&2_), maka di fase selanjutnya, kita perlu menyusun _personalized curriculum_ untuk tiap anak, apalagi jika jenis potensi aktivitas yg akan dilatih dan diuji konsistensinya berbeda antara keduanya.

(3) Wah… banyak sekali pilihannya Bunda. Karena pada dasarnya, kita bisa mengatur waktu kita sebagaimana kita mengatur waktu untuk keluarga. Diperlukan *quality time* dengan kuantitas yg disepakati, baik harian maupun pekanan, yg bisa Bunda jadwalkan diluar waktu bekerja.

Bunda juga bisa berbagi peran dg Ayah, untuk bisa mengamati secara lebih komprehensif. Karena Ayah dan Bunda berbeda, kita bisa sharing sudut pandang yg tidak bisa kita lakukan jika hanya sendirian 😉✅

[12/28/2017, 8:42 PM] Desi BBA Online: 7. Dwi Setyani

Mba, saya penasaran dengan kelanjutan materinya. Jadi bagaimana cara mengenali bakat anak, dimana anak masih dalam tahap pembentukan karakter, agar kita tetap bs menjaga fitrah anak tetapi sekaligus memdampingi membentuk karakter mereka?
Bagaimana tahapan-tahapan menguatkan bakat dan tetap mendewasakan anak?

Jika memang ada indikasi sebagai aktivitas 2E, silakan boleh Bunda uji konsistensinya dalam bidang yang lain. Selipkan tema komunikasi dalam setiap aktivitas Ananda. Jika memang konsisten, silakan tandai, lalu Bunda bisa melanjutkan observasi pada kemungkinan munculnya kombinasi bakat-bakat yang lain, dengan proses observasi yang kurang lebih sama ✅

[12/28/2017, 8:45 PM] Desi BBA Online: 8. Kiki Amel

assalamu’alaikum, bunda. saya kiki dari pangkalpinang. mau tanya, jadi apa yg harus saya lakukan dan siapkan untuk menemukan bakat anak saya yang sebenarnya. saat ini kecenderungan si sulung adalah verbal dan ingatannya lumayan baik, hafalan surat pendek dan panjang cepat sekali ditangkap. tapi kreativitasnya seprti menggambar, mewarnai, atau kegiatan sejenisnya sangat kurang sekali. saya sedikit khawatir dan terganggu dengan anggapan orgtua saya yg srring membandingkan si abang dgn sepupunya yg kreatif sekali. mohon masukannya mba ya. terimakasih

7. Terima kasih Bunda Dwi, rasa penasarannya bikin saya ikut deg-degan 😄

Mudah-mudahan di lain kesempatan bisa kita lanjutkan ya Bunda, diskusi materi yang lebih mendetail. Sebagian ‘bocoran’ materinya sudah saya tampilkan di jawaban-jawaban saya untuk pertanyaan semua Bunda yg ada disini.

Colek Mbak @Hana Syahida , semoga mau yaa memfasilitasi lagi untuk _advanced materials_-nya 😉 ✅

8. Bunda Kiki Yth,

Di antara hadiah terindah yang bisa kita berikan bagi anak adalah _penerimaan yg tulus_ terhadap dirinya. Kita hanya perlu yakin bahwa setiap anak adalah spesial dan bibit unggul yg kelak punya peran spesial di dunia, insya Allah.

Setelah penerimaan yg tulus, tugas kita adalah belajar bagaimana membantu anak _menemukan_ siapa dirinya, apa potensi yg bisa ia kembangkan.

Dalam Talents Mapping, salah satu fase awal yg bisa kita lakukan adalah *fase eksplorasi*. Kita bisa mengajak anak untuk melakukan *beragam aktivitas*, yang darinya kita bisa mengamati, mana saja aktivitas yang membuat anak _berbinar-binar_ (Enjoy), dan _ia mudah melakukannya_ (Easy). Saya menyebutnya aktivitas 2E. Jika sudah ketemu, kita bisa melanjutkan ke tahapan pengembangan berikutnya. ✅

[12/28/2017, 8:47 PM] Desi BBA Online: 9. Ratna Dewi

Assalamualaikum
Mba, masih bisa bertanya:
“bagaimana cara kita mengetahui bakat anak’ kita dan bagaimana cara menenukan bakat anak yg terpendam

9. Bunda Ratna yth, jawaban untuk pertanyaan Bunda bisa dilihat di jawaban sebelumnya yaa (pertanyaan no.8, dari Bunda Kiki Amel).

Intinya kita bisa mengawali dg fase eksplorasi bersama anak dg mengajaknya melakukan *beragam aktivitas*, untuk diobservasi, mana yg ‘mungkin’ merupakan bakatnya. ✅

[12/28/2017, 8:50 PM] Desi BBA Online: 10. RK Putri

Assalamualaikum, pertanyaan saya,
1. Bagaimana metode utk menemukan bakat anak? jika sudah tau kecenderungan/kesukaan/karakter anak, apakah itu bisa jd bakatny?
2. Apakah bakat itu menetap atau bisa berubah2 sesuai tahapan umurnya?
Jazakillah khoir utk jawabannya.

10. Terima kasih Bunda Putri,

(1). Sifat/karakter adalah sesuatu yg bersifat statis. Untuk dapat distimulasi, kita perlu mengarahkan sifat tersebut menjadi aktivitas produktif yg sesuai. Mengapa harus aktivitas produktif? Sebab orientasi pengenalan bakat adalah kebermanfaatan, jika aktivitasnya tidak produktif, anak tidak akan mewujudkan bakatnya menjadi peran hidup yg bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain.

Misal: ada anak yg sifat dasarnya sangat berhati-hati (kalau dipandang negatif, bisa jadi orang menganggapnya penakut/peragu). Kita bisa mengarahkan anak yg suka berhati-hati ini dg aktivitas produktif yg membutuhkan kehati-hatian (dan biasanya ketelitian), contoh: mewarnai, membatik, membersihkan sesuatu, merenda, memperbaiki sesuatu, meneliti dan sebagainya.

Manakah dari aktivitas tersebut yg memenuhi kaidah 2E ( _lihat jawaban sebelumnya_)?
Mungkinkah aktivitas yg sama bisa dilakukan di bidang-bidang yg berbeda?
Manakah yg tergolong aktivitas 2E yg muncul secara konsisten berulang-ulang bahkan dalam konteks/bidang yg berbeda?

Jika kita menemukan jaawabannya, _*mungkin*_ itu adalah bakatnya. Mari observasi lebih lanjut.

(2) Bakat & minat mungkin akan berbeda di tahapan umur seorang anak. Dibandingkan berubah-ubah, saya lebih suka menyebutnya dengan _’menemukan bakat/potensi dan minat yg lebih kuat dibandingkan sebelumnya’_.

Sebab sejatinya, bakat seseorang merupakan kombinasi dari sifat produktifnya, dan bakat tersebut bisa menemukan kecocokan dg aktivitas dan minat yg berbeda. Bisa jadi seseorang memiliki beberapa kekuatan sekaligus, hanya saja akan ada potensi tertentu yg lebih kuat dibandingkan dg yg lain.

Seiring dg pertambahan usia anak, dg stimulasi pengembangan yg tepat, potensi yg muncul biasanya akan makin konsisten. Itulah sebabnya saya lebih bersepakat untuk *tidak terlalu dini ‘memvonis’ bakat anak*. _Lebih tepat, lebih baik_. ✅

[12/28/2017, 8:55 PM] Desi BBA Online: 11. Finda

Assalamualaikum mbak.. saya Finda dr Bantul. Mohon maaf kalau yang saya tanyakan sedikit melenceng dr topik.
1. Bagaimana kalau yang mendikte anak adalah kakek neneknya (orang tua kami) kebetulan kami masih serumah dan mereka berdua sangat ambisius untuk “menitipkan” mimpi mereka yang tidak dapat saya wujudkan. Apa yang harus saya perbuat pada anak saya dan orang tua saya, karena saya bertekad anak saya dapat sukses dan damai di jalannya tetapi seringkali orang tua saya seperti ‘mengintervensi’..
2. Bagaimana mengarahkan minat dan bakat anak supaya tetap seiring sejalan dengan agama dan norma sosial, misal berbakat menari padahal banyak tarian yang kostumnya tidak menutup aurat atau menari dihadapan laki2 dikhawatirkan mengundang hal2 yang kurang baik..
Terimakasih.. 🙂
Wassalamualaikum

11. 1

Bunda Finda yth (waaah kita sama lhoo dari Bantul 😊),
Hubungan dg kakek nenek akan selalu menjadi topik yg dilematis yaa, sebab adanya perbedaan generasi biasanya memunculkan konsekuensi perbedaan cara pandang dan cara menyikapi sesuatu. Terkait dg ini, saya yakin hanya Bunda Finda&Suami yg bisa menentukan formula yg paling ‘pas’ untuk berinteraksi dg kakek neneknya. Kapan harus bertahan dg pendirian, dan kapan harus melonggarkan.

Jika memang yakin dg pilihan Ayah&Bunda dalam mendidik anak, mungkin akan butuh waktu bagi kakek/nenek hingga mereka memperoleh ‘bukti’ bahwa pilihan tertentu lebih cocok bagi ananda dan ayah-bundanya. Tetap tunjukkan kebahagiaan dalam mendampingi ananda belajar, dan tetap tunjukkan takdzim kepada orangtua. Mudah-mudahan tiba masanya kakek-nenek bisa menerima dan ridho dg pilihan Ayah-Bunda 😇

(2) Sebagaimana yg saya sebutkan dalam materi pengantar, yg kita sebut bakat tidaklah hanya yg berkaitan dg aktivitas fisik-indrawi seperti menyanyi, menari, dan sebagainya.

Menyanyi, menari, adalah aktivitas yg terkait dg fisik/indra yg sebenarnya berkaitan dg proses ‘memperindah sesuatu’ atau biasa kita sebut dg seni.

Bunda bisa menggali lebih jauh, apakah kemampuan ‘memperindah sesuatu’ ini juga bisa diwujudkan dalam aktivitas yg lainnya? (sekadar contoh saja yaa: handlettering, graphic design, ‘seni’ tilawah, nasyid, juga termasuk aktivitas memperindah sesuatu).

Lagipula, jika ananda masih anak-anak, bukankah ada kemungkinan juga ada bakat-bakat lain yg belum muncul? Suka melayani orang lain, suka mengatur sesuatu, senang melihat orang lain maju, dan sebagainya, adalah sebagian dari sifat-sifat yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif. Bunda bisa terus menggali apa saja potensi kekuatan ananda, sampai dengan nantinya memilih peran yg sesuai dg bakatnya dan tidak bertentangan dengan values keluarga. ✅

[12/28/2017, 9:00 PM] Desi BBA Online: 11. Rum

Assalamualaikum bunda… Perkenalkan nama sya Rum 25thn umi dr Indana.. sya IRT nyambi Jualan.. Anak sya bru berumur 3thn1bln.. tp Alhamdulillah anak sya Pintar melebihi anak2 usianya bahkan anak 5thn d’tempat sya tinggal.. Anak sya itu cepat banget menghafal lagu2,,huruf hijaiah,,do’a2,,kadang suka mengganti lirik lagu..😊 apakah ini bakat anak sya bun.?
Cuma anak sya itu kl ada mau nya harus d’turutin langsung bun gak bisa besok2.. kadang sya sudah cape sma kerjaan rumah ini itu kadang2 ada saatnya kesal jg..soalnya anak sya mh kl d’kasih tau pinter jawabnya bun..
Gimana yh cara mendidik yg baik.?

11 (2)

Bunda Rum Yth,

Masya Allah 😊
Salah satu tantangan bagi kita orangtua adalah terus belajar…

Terkait dg usia ananda yg baru 3 tahun, menurut saya bunda tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bakat ananda. Ini adalah masa terbaik bagi ananda untuk bereksplorasi bersama Bunda, mencoba beragam aktivitas produktif. Jika sudah makin terlihat mana yg menonjol (2E), bisa dilanjutkan ke tahapan fasilitasi selanjutnya (sebaiknya mulai usia 7 tahun). ✅

[12/28/2017, 9:06 PM] Desi BBA Online: 13. Nala

Assalamualaikum bunda hana…salam kenal aq nala dr cikarang bekasi.
Aq mau tanya nih.ank aq 2 org cewe2y.yg satu umur 9thn adik’y 5tahun.
Disini yg mau sy tanykn ttg ank sy yg usia 9thn.knp y bun ko anky sy itu klo dsrh bljr mlz bgt nungh sy mrh2 dl br deh mo bljr.cra’y gmn y bun biar ank sy rajin n pintar.tks y bun

13. Bunda Nala Yth,

sesungguhnya tiap anak terlahir dalam kondisi fitrah. Diantara kondisi baik yg Allah bekalkan adalah bahwa setiap anak sebenarnya sangat senang belajar, sangat tinggi rasa penasarannya. Mengetahui hal baru, memperoleh pengalaman baru yg bermanfaat, sejatinya juga proses belajar.

Yg ingin saya tanyakan kembali,
proses belajar yg seperti apa yg bunda harapkan dari ananda?
kira-kira mulai kapan ananda tidak semangat belajar? mengapa?
apa hal yg disukainya– bisakah hal tersebut menjadi pintu masuk untuk belajar lebih banyak hal lainnya? ✅

Maaf bund iing.. metodo mendidik anak yg baik gmn.?
tadi kurang pnjelasannya.. terimakasih😊🙏

Karena saya muslim, maka metode yg baik bagi saya dan keluarga antara lain: (1) yg mengantarkan kepada ketaqwaan, (2) sesuai dg yg diajarkan rasulullah SAW, (3) melibatkan anak sebagai subjek dan memfasilitasi keunikannya, (4) berorientasi penguatan fitrah anak dan kemanfaatan. Pilihan teknisnya, bisa apapun, selama tidak bertentangan dg keempat prinsip tersebut. Saat ini banyak pendekatan yg diperkenalkan oleh para pakar yaa Bunda ✅

[12/28/2017, 9:12 PM] Desi BBA Online: 14. Anonim

Assalamualaikum Bunda Hana…

Pertanyaan saya… knp hampir setiap parenting atau pendidikan edukasi lainnya kbanyakan di ambil dr video2 org luar negri(bisa dkatakan non muslim).
Sedgkan yh di tujukan org2 muslim(di grup parenting mapping ini) mengapa tidak mengambil contoh dari org2 indonesia sendiri/org2 muslim sebagai yg di ambil contoh dlm video.
Apakah pendidikan org indonesia kurg bagus/kurg memadai utk di ambil sebagai contoh ?

Untuk masalah bakat anak apakah mendidik/mengarahkan anak menjadi penghafal al-qur’an termasuk memaksakan kehendak org tua/guru(ustadz/ustadzah) terhadap anak ?

Bagaimana dengan kebebasan anak2 di palestin/gaza/suriah dll yg menginginkan kbebasan bakat sdgkan mereka sibuk mempersiapkan diri untul mnjadi mujahid kecil ?

Mohon jawabannya bunda karna saya takut salah mendidik anak mngenai bakat dlm pendidikan anak.
Karena anak adalah aset dunia dan juga akhirat.
Terimakasih bunda 😊😊😊

14. Bunda yg dirahmati Allah, terima kasih banyak, ini wacana yg menurut saya menarik sekali. Jika yg Bunda maksud adalah video Prince Ea yg sempat diposting mba Hana… saya justru mengapresiasi video tersebut, dalam konteks bagaimana orang barat sendiri menggugat sistem pendidikan yg selama ini dijadikan rujukan banyak pihak. Artinya, tidak ada kebenaran tunggal terkait metode mendidik, kecuali atas petunjuk Allah SWT.

Saya pribadi tidak mutlak menolak teori barat dalam pendidikan, selama tidak bertentangan dg syariat, dan Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Adapun di Indonesia sendiri, di pesantren tradisional juga terdapat satu metode yg terkenal yaitu metode sorogan yg, masya Allah, sistem belajarnya sangat personal dimana seorang murid bertatap muka dg seorang guru. Dan banyak lagi saya kira, khazanah kebaikan yg bertebaran dimana saja yg dapat kita ambil manfaatnya.

PR kita memang memperbanyak media penyebaran gagasan yg mudah diakses siapa saja secara teknologi. Terkait bakat, belum banyak ulama yg membahasnya secara detail. Yg pernah saya lihat Ust Nouman Ali Khan pernah membahasnya disini:

Kalau di Indonesia, yg concern dg fitrah bakat diantaranya ada guru kami Abah Rama Royani (Founder Talenta Mapping) dan Ust Hari Santosa (Founder Komunitas HEbAT).

Lalu bagaimana dg anak-anak di negeri konflik seperti Palestina dan lainnya? (Semoga Allah SWT memberikan pertolongan kepada mereka 😭)

Sama seperti manusia lainnya, mereka juga Allah bekalkan potensi positif, dan misi spesifik dalam hidupnya. Pun saat ini mereka sedang diuji dg penjajahan ataupun peperangan, saya yakin Allah bekalkan kekuatan khusus untuk menghadapi itu semua. Hanya saja bukan kapasitas saya membahas hal itu disini.

Saya berharap, dg memahami konsep bakat ini, kita lebih serius sekaligus lebih rileks dalam membersamai anak-anak belajar, hingga akhirnya nanti mereka menjadi generasi bermanfaat bagi sesamanya, baik yg dekat maupun di belahan bumi lainnya. Insya Allah. ✅

* ralat: Kalau di Indonesia, yg concern dg fitrah bakat diantaranya ada guru kami Abah Rama Royani (Founder *Talents Mapping* ) dan Ust Hari Santosa (Founder Komunitas HEbAT).

[12/28/2017, 9:18 PM] Desi BBA Online: 14. Anah

Aslm.. Saya bu anah dari malang dg 3putri, 3th,2th,4bln..
Mau tanya,
1.bgmn langkah orangtua stlah mnggali bakat ananda utk bisa memaksimalkn potensi di masa depannya?
2. Anak pertama sy kategori anak yg rajin, di usianya 3th ini, dia sdh bisa melipat baju n menaruhnya di lemari sendiri, juga sering bantu2 sy sukarela memasak, menyapu, mengepel dan beres2 rumah.. Apakah ini umum utk semua anak perempuan di usianya, atau termasuk bakat yg ada pd putri sy ini yg harus dikembangkn shg mjdi potensi kedepannya?

14. Terima kasih bunda Anah, masya Allah… ibu 3 balita 😍

untuk pertanyaan no. (1) bisa dilihat skema 4E di jawaban sebelumnya yaa bund 😇.

(2) maasyaa Allah. Bisa dicatat dan cermati terus menerus Bunda. Apakah aktivitas tersebut memenuhi kaidah 2E? Apakah terjadi secara natural? Apakah berulang-ulang secara konsisten? Apakah pola yg sama juga terjadi dalam konteks yg lainnya? Jika jawabannya iya, *mungkin* saja 😊.

Saran saya, karena ananda masih balita, sebaiknya tetap terus bereksplorasi dg beragam aktivitas, dikuatkan dg observasi untuk menguji konsistensinya, juga barangkali akan ada bakat lain yg menyertai potensi tersebut. ✅

[12/28/2017, 9:21 PM] Desi BBA Online: 15. Umma Hanin

Assalamu’alaykum..
Bagaimana cara menemukan bakat masing2 anak dengan tepat? Langkah2 apa yg harus dilakukan? Terutama utk anak2 yg masih berusia dibawah 7 tahun…
Terima kasih..

15. Terima kasih umma Hanin,

untuk anak usia di bawah 7 tahun, tema pendampingannya adalah eksplorasi:
– Beri kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas yg beragam
– Perkenalkan anak dengan lingkungan yg berbeda-beda
– Amati dengan cermat mana aktivitas yg disukai oleh anak dan dilakukannya dg mudah, dokumentasikan dalam catatan yg nantinya akan membantu Bunda memetakan bakatnya. ✅

Aslm bu Anah, saya jd ingat saya sendiri waktu kecil seperti ini. Kalau bersih2 rumah sampai ke sudut2, melipat kertas warna di umur 3 tahun sudah rapi. Saya suka ketelitian dan menyukai analisa 😁

[12/28/2017, 9:24 PM] Desi BBA Online: 16. Agnisa Megasari

Assalamualaikum….mbak Hana, saya ibu dari 2 orang putri. Anak pertama usia 9 tahun sedangkan yang kedua 4 tahun. Pertanyaan pertama bagaimana caranya menggali potensi anak ? Untuk anak pertama saya sepertinya belum terlihat bakat yang menonjol.
Pertanyaan kedua, bagaimana cara menstimulasi anak agar minatnya pada salah satu bidang semakin kuat?

[12/28/2017, 9:27 PM] Desi BBA Online: 17. Monique

Assallamualaykum, saya monique ibu dua anak laki2 (3th,1th) dr batam
Ijin bertanya:
1.Usia berapa sebaiknya mulai dilakukan talent mapping pada anak? Karena putra saya masih balita, apakah ada syarat yang diperlukan demi memaksimalkan hasil dari talent mapping? Seperti cakupan stimulasi & eksplorasi apa saja yang sebaiknya dilakukan sejak anak usia dini.
2. Anak saya yang kedua punya karakter yang kuat dan sulit untuk diarahkan, memiliki spontanitas dalam bertindak, tidak sabar untuk segera memulai sesuatu krn baginya bertindak adalah cara terbaik untuk belajar. Untuk karakter anak yang seperti ini bagaimana cara untuk mengasah minat dan bakatnya.
Terimakasih 🙏

[12/28/2017, 9:28 PM] Desi BBA Online: Mbak hana, sy redita di sleman, nyambung dg pertnyaan bunda rum. Bagaimana menghadapi anak yg pandai berargumentasi, tiap diberi tahu sesuatu yg sifatnya korektif anak sy pandai beralasan. Sy menganggap hal itu sbg seni diplomasi, namun lama2 kwalahan jg membimbingnya. Adakah teknik khusus mendampingi bakat verbal anak yg dominan? Terimakasih.

16. Bunda Agnisa yth,

Seperti yg saya sampaikan sebelumnya, sebelum memetakan bakat anak, kita perlu memperkenalkan berbagai macam aktivitas produktif kepada anak. Karena ananda sudah berusia 9 tahun, insya Allah akan lebih mudah karena ananda sudah bisa mengidentifikasi, mengkomunikasikan perasaan dan pengalamannya.

Di Talents Mapping kita belajar tentang 45 aktivitas produktif yg dapat membantu kita dalam mengamati anak-anak. Cara yg paling mudah adalah memberikan pengalaman kepada anak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, lalu kita meminta feedbacknya, _apakah ia suka? apakah mudah baginya melakukan aktivitas tersebut? apakah ia berminat melatihnya lebih lanjut?_

Jika sudah mulai terpetakan, langkah selanjutnya adalah merancang kurikulum yg lebih terstruktur untuk menguatkan bakatnya. Hal ini dapat dilakukan melalui magang, mengikuti short course, mengerjakan project, dan sebagainya. ✅

17. Wah, bunda Monique sudah mulai mengamati sifat-sifat produktif ananda yaa 😍

(1) untuk fase eksplorasi, bunda bisa mulai dg mengenalkan 45 aktivitas produktif yg dikenalkan Abah Rama Royani dalam Talents Mapping sebagai bahan stimulasi. Jika Bunda memerlukan bantuan berupa tools assessment Talents Mapping, akan cukup valid jika dilakukan kisaran usia 14 tahun, dg asumsi bahwa di usia tersebut anak sudah ‘menemukan dirinya’ sehingga hasilnya lebih konsisten.

(2) Yg pertama perlu kita fahami, sifat apapun yg yg dimiliki anak pada dasarnya bisa diarahkan dalam bentuk aktivitas produktif. Misalnya, dalam bahasa Talents Mapping, sifat ‘ingin segera memulai melakukan sesuatu’ disebut dg bakat _activator_, ini potensi. Untuk mewujudkannya menjadi sebuah aktivitas produktif kita perlu menggali kombinasi bakat apa yg menyertai, untuk mengarahkan kepada aktivitas yg cocok.

Ups, masih satu tahun yaa? 😅 kembali ke kaidah awal yaa bunda… silakan optimalkan eksplorasi dulu: mengenalkan aktivitas yg *beragam*. ✅

Tentu ada, bund. Semua bisa dipelajari. Dan biasanya, anak-anak yang argumentatif imbangannya adalah nalar yang logis, tidak sekadar kemampuan/skill berbicara saja. Jika Bunda berat melakukannya sendirian, silakan bisa mencari partner yang berkompeten untuk mengembangkan bakat Ananda ✅

[12/28/2017, 9:33 PM] Desi BBA Online: 18. Efi

Apakah jika tipe anak seperti auditory, visual, & kinestetik diketahui & dimanfaatkan dengan benar ada kaitannya dgn ketepatan ditemukannya talents mapping juga?

18. Bunda Efi,

yg saya pahami tentang gaya auditori, kinestetik dan visual adalah cara termudah bagi seseorang untuk menyerap informasi.

Bakat itu sudah ada, sebagais ebuah bibit unggul. Untuk optimalisasi bakat hingga menjadi sebuah peran yg bermanfaat, seseorang perlu belajar tentang apapun yg bisa menunjang proses belajarnya. Di sinilah kita akan mempertimbangkan gaya belajar seseorang. ✅
[12/28/2017, 9:36 PM] Desi BBA Online: 19. Hani

Assalamualaikum Bunda Fifi yg dirahmati Allah..
Anak saya ada 2. Laki2 (10y) dan perempuan ( 6y). Sebentar lagi, anak laki2 saya akan sy masukan ke boarding school..alasan sy agar mndptk lngkngna kondusif utk belajar dan mengembangkan diri. Sy melihat minatnya di science sgt tinggi. Tapi dia agak ceroboh dan cuek dgn lingkungan. Kalau ditanya cita2 dia pingin buat bom dan masuk teknik elektro. Apa yg sebaiknya dibekali pada anak usia jelang 12 tahun ya…
Kalau anak kedua, sy lihat lebih ke linguistik krn sng membuat cerita.
Apa perempuan mmg lbh menonjol dari sisi otak kanan ya Bu?
Bgmn mendidik kedua anak dgn bakat yg berbeda2?
Apa betul kt hrs memberlakukan anak laki dan perempuan ber eda

19. Bunda Hani yth,
Masya Allah, semoga ananda menjadi anak yg sholih dan sholihah ya bund…

Untuk usia 7 tahun ke atas, kita bisa buatkan personalized curriculum bagi tiap anak. Jangan dibayangkan seperti silabus yg dikumpulkan para guru saat akreditasi ya bund 😅

Kita sederhanakan saja, apa saja potensi tiap anak, bagaimana gaya berlajarnya, dan apa minat yg akan ditekuninya dalam kurun waktu yg disepakati.

Selain itu, kita juga bisa menerapkan formula TASK (Talents, Attitude, Skill, Knowledge). Keempatnya sangat dibutuhkan untuk membangun kesuksesan seseorang. Jika sukses (dalam definisi luas) adalah tujuannya, maka talents adalah ‘jalan’nya, dan akhlak/attitude, skill dan pengetahuan adalah cara untuk mencapainya. ✅

Memang ada kecenderungan tertentu terkait kinerja otak laki-laki dan perempuan, sifatnya generalisasi. Untuk sampai kepada bahasan bakat, sifatnya lebih personal lagi. Tidak menutup kemungkinan seorang laki-laki memiliki bakat komunikasi yang kuat ✅

[12/28/2017, 9:40 PM] Desi BBA Online: 20. Yamtini

Malam bunda, saya ada pertanyaan utk talents mapping. Anak saya laki-laki umur 29 bulan, anaknya aktif sekali, gak bisa diem bahkan utk tidur siang pun susah sekali krn saking aktifnya jd kalau tdk ditidurkan dg muter2 naik motor gak bs tidur. Saya pernah baca dr beberapa artikel, kalau anak gak bisa diem itu kecerdasan kinestetiknya tinggi.Gmna ya bun, cara mengarahkan bakatnya agar lbh maksimal? Trus kegiatan apa saja yg tepat utk mendukung keaktifannya tsb? Dan utk masuk sekolah PAUD idealnya usia brp ya bun? Krn saya jg smpt baca artikel kalau anak usia dini tdk perlu sekolah, dan usia masuk SD sebaiknya 7 th. Tks.

20. Bunda Yamtini,
Masya Allah, saya sangat senang ketika orangtua mempersiapkan pendidikan anak sejak jauh-jauh hari, meski anak belum berusia sekolah. Memang demikianlah seharusnya 😇

Dan karena ananda masih balita, silakan bunda bisa memperkenalkan berbagai aktivitas stimulasi yg bisa bunda lakukan di rumah. Di sekitar kita juga banyak metode yg berkembang untuk membantu memudahkan, misal Montessori, Charlotte Masson, kurikulum AUD dari kemendiknas, dan sebagainya.

Kaitannya dg talents mapping, lebih sederhana lagi. Bunda hanya perlu memperkenalkan *beragam aktivitas dan lingkungan* kepada ananda, sebagai bekal untuk observasi selanjutnya.

Sedikit tambahan terkait pilihan menyekolahkan pada usia tertentu, silakan bunda bisa cari referensi dari para pakar, dan implementasinya disesuaikan dg value keluarga ya bunda. Juga melihat kebutuhan dan kesiapan anak. Karena bisa jadi tiap keluarga berbeda, tiap anak juga berbeda ✅.

[12/28/2017, 9:45 PM] Desi BBA Online: 21. Wahyu

Assalamualaikum wr wb

Saya Wahyu (29th, guru SDIT), anak Mecca (4thn 3bln, paud),

Setiap anak mmng istimewa, tp jjur sya blm yakin spnuhnya mngenali bakat dlm diri anak saya.
Kesehariannya sring bermain:
👉🏻 lego (bentuk” yg dia cipta sndiri tnpa bntuan ataupun mncontoh gmbar) yg membuat ayah-ummi nya kdang heran, kok bisa ya buat bentuk sprti itu??
👉🏻bermain peran (masak”, dandan” boneka),
👉🏻mewarna gambar

Menyekolahkan Mecca di paud membuat kami menyadari bhwa dia lbih cepat mnghafal (doa,hadist,surat” pendek).
Tp ketika dimurojaah drmh, dia lbih cepat jk smbil gerak”.
Hmpir smua kegiatan dia suka,,
Hingga ada kulwap ini, sya jd brpkir,,bakat apa sbnrnya yg ada dlm anak saya?

21. Bunda Wahyu yg baik,

Tetap rileks yaa apalagi ananda masih balita. Silakan terus kenalkan ananda dg aktivitas yg beragam, sambil amati terus polanya.

Karena Bunda berlatar belakang pendidik, saya kira cukup mudah bagi bunda untuk membuat protofolio aktivitas anak. Insya Allah rekam jejak yg disusun akan sangat membantu bunda membaca polanya 😉✅

[12/28/2017, 9:49 PM] Desi BBA Online: 22. Veti

Assalamualaikum…. Mbak iing saya mau menanyakan… Selama ino saya menanggap sekolah hanya sebagai mitra saja dalam membantu saya belajar bersama mbak kia karna kebutuhan sosialisasi (mbak kia 5thn) yang tinggi yang tidak mampu saya berikan dirumah… Tapi saya mulai mengalami kegundahan saya bingung sebenarnya langkah awal yang harus saya lakukan dalam menggali potensi mbak kia 5 th dan hanin 2thn itu gimana ya mbak dan folow up nya gimana ya…. Biar potensi ananda lebih tergali…. Mksih banyak mbak iing….

22. Waalaikumussalam warahmatullah.

Haii Kakak Veti 😇 (kawan lama saya nih)

Usia 0-7 tahun adalah usia yg paling tepat untuk bereksplorasi bersama ananda, mencoba beragam aktivitas dg ananda. Biarkan ia mengalami, merasakan, dan menunjukkan keasyikan dan ketertarikannya pada aktivitas tertentu secara natural.

Tugas kita mengamati, mencatat, dan memetakan. Ada banyaaaak hal yg bisa diamati. Bahkan dalam konteks ‘suka bersosialisasi’, kita dapat mengidentifikasi lebih jauh bagaimana pola sosialisasinya.

Di Talents Mapping kita belajar tentang kekuatan interpersonal, dimana seseorang lebih cocok dg aktivitas yg melibatkan orang lain. Ada orang yg senang melayani dg pola relasi sejajar, ada yg lebih cocok dg menjadi superior ataupun inferior (dalam artian positif), perlu kita kaji juga kombinasinya dengan sifat/bakat yg lain, untuk menemukan aktivitas produktif apa saja yg cocok untuk pengembangan bakatnya.

Tetap semangat dan jangan galau yaa 😘✅

[12/28/2017, 9:53 PM] Desi BBA Online: 23. Nindya

Sya Nindya dr Semarang.

Saya mau brtanya pada mbak yg sdh mendalami ttg talents mapping. Apakah menurut mbak dlm memetakan bakat anak pepatah “buah jatuh tak jauh dr pohonnya” bisa dipakai? Maksudnya begini mbak. Bahwa tetap ada kecenderungan bakat2 trtntu dlm keluarga. Misal, sprti kisah miguel yg berbakat di bidang musik. Dstu diceritakan bahwa wlaupun klrga besarnya sbgian pngrajin, trnyta kakek buyutnya dlu adalah seorang pemusik (dan bakat ini menurun pda miguel itu). Jadi, walaupun bukan orgtuanya langsung, tapi masih tetap ada dlm satu garis keturunan (kakek buyut – canggah) = yg sma2 suka/brbakat dlm hal yg sama.
Soalnya sya masih brfikir kadg kalau memetakan bakat anak, sya masih sekedar melihat bkat/kesukaan/kemmpuan saya dan suami saja. Blm sampai memetakan pada kluarga besar yg lain. Apakah menurut mbak hal itu memang bisa berkaitan?
Misal: saya dan suami lbih cenderung ke bidang A, minat, hobi, passion, lingkungan pun tak jauh2 dr A, B, C. Tapi trnyta bakat/kecenderungan/ketertarikan anak malah ke bidang X, Y, Z yang tak pernah terduga. Dan setelah ditelusuri bahwa ada dari kluarga jauh (tapi masih satu garis keturunan) yg juga bergelut di bidang XYZ tsb.
Mohon maaf kalau pertanyaanny agak membingungkan. Trmksih sblmnya.

23. Wow, nice question bunda Nindya 😊

Tentang bagaimana faktor genetik berpengaruh terhadap pola bakat dan minat seseorang, saya belum menemukan penelitiannya. Tapi bahwa ada pengaruh genetik dalam bakat seseorang, banyak ahli yg sudah mengutarakan.

Simpelnya, yg namanya minat (kecenderungan terhadap bidang tertentu, sangat bisa dipengaruhi lingkungan/konteks). Sedangkan bakat, merupakan bagian dari rahasia penciptaan makhluk.

Jika kita sudah memahami ini, menerima apapun kondisi anak dengan kelapangan hati, dan meyakini bahwa ialah bibit unggul yg Allah titipkan kepada kita.

Tugas kita adalah mengenali jenis bibitnya dg seksama, dan belajar (serta mengupayakan) cara apa yg paling tepat agar bibit itu tumbuh dg baik sehingga bisa memberi kemanfaatan.

Minat, bidang, konteks, sangat mungkin berubah. Tetapi bakat, akan cenderung konsisten membuat pola aktivitas seseorang berulang, bahkan dalam konteks yg berbeda-beda. Seorang anak yg punya bakat (salah satunya) senang memajukan orang lain lalu diarahkan kepada aktivitas mengajar misalnya, apapun bidang yg ia pilih, maka biasanya peran yg dilakukannya tidak jauh-jauh dari mengajar (meskipun bukan berprofesi menjadi guru). Dan masih banyak contoh lainnya yg tidak memungkinkan saya sebutkan satu persatu disini. ✅

[12/28/2017, 9:57 PM] Desi BBA Online: 24. Nola

Diumur berapa bakat itu terlihat? Apakah bakat itu biss kita alihkan ke bakat yg lain? Misal anak laki tp doyannya main masak2. Bisa ga kita alihkan bakatnya itu ke hal yg lain?

24. Bunda Nola yth,

Seperti jawaban sebelumnya (lupa tadi nomor berapa yaa 😅), bakat pada dasarnya bisa terlihat sejak kapan saja. Akan tetapi, perlu kita pahami bahwa potensi seseorang sangat mungkin merupakan kombinasi antara beberapa sifat/bakat sekaligus. Inilah yg perlu kita gali.

Dalam Talents Mapping, usia ±14 tahun adalah patokan standar usia dimana potensi seseorang mulai ‘ajeg’. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan seseorang dapat terbaca lebih cepat daripada itu, ataupun lebih lambat. Meskipun ini sangat jarang.

Bagaimana mengalihkan bakat?
Bidang/konteks sangat mungkin berubah. Misalkan, anak yg sangat senang memperbaiki sesuatu. Di satu waktu dia suka otak atik motor, di waktu lain ia otak atik mobil, di kesempatan selanjutnya mungkin dia akan mengembangkannya ke objek yg berbeda lagi.

Pertanyaan mendasarnya, mengapa perlu dialihkan? Selama tidak bertentangan dg hal yg sifatnya prinsipil, seperti norma agama, norma sosial dan semacamnya, kita hanya perlu mendampingi mereka sepenuh hati dan memastikan bakat ananda akan mendorongnya melahirkan kemanfaatan.

Apalagi, anak laki-laki pinter masak itu keren banget lho bund. Idaman istri dan mertua 😅😍 ✅

[12/28/2017, 9:59 PM] Desi BBA Online: 25. Rahma ismawanti

Assalamu’alaikum
Apa bunda Fitri sudah menemukan bakat putra putrinya, dan sudah mulai fokus pada salah satu bidang yg diminati anak?
Kalau sudah, bisa diceritakan detail dan tahapan sampai bunda berkesimpulan bahwa anak memang unggul dalam salh satu bidang tertentu?

[12/28/2017, 10:01 PM] Desi BBA Online: 26. Zakiyah

Bu, sy mau tanya utk yg talent mapping

1. Bakat itu given atau sesuatu yg bisa didapat dgn pengkondisian/usaha?
2. Bgaimana hubungan bakat dgn minat? bgaimana membedakannya?
3. Apakah perlu membuat prtofolio si anak sejak kecil spaya nanti saat besar si anak bisa menentukan sendiri kecenderungannya pada bidang apa?
4. Apabila si anal sudah remaja, bagaimana melakukan pengondisian utk pemetaan bakat dia?

24. 2

Terima kasih Bunda Zakiyah, pertanyaan terakhir 😍

(1) Dalam pendefinisian bakat, ada aliran ‘nature’ (bakat itu given) dan aliran ‘nurture’ (bakat itu bisa dibentuk). Saya pribadi lebih cocok dg pendapat pertama. Meskipun ada hal-hal yg bisa diubah dengan usaha/latihan tertentu, tetap saja ada sifat baik yg memang sudah melekat sejak mula lahirnya. Inilah bakat yg saya pahami.

Selanjutnya, dalam pembahasan bakat, kita akan mengenal istilah yg mirip, yakni kompetensi. Kompetensi bisa dilatih. Tapi dg bakat (potensi yg given oleh Allah), sebuah kompetensi akan lebih mudah dicapai, sebab diantara ciri-ciri bakat adalah *cepat menunjukkan keunggulan*

(2) Bakat adalah sifat produktif, yg melekat pada diri seseorang sejak lahirnya. Sedangkan minat, adalah kecenderungan seseorang terhadap sesuatu. Bakat sifatnya natural, sedangkan minat sifatnya lebih kontekstual. Bakat yg terhubung dg minat, akan melahirkan aktivitas produktif yg disebut kekuatan.

Misal: bakatnya adalah mudah berempati (salah tema bakat yg dipakai dalam Talents Mapping) minatnya di bidang kesehatan, kekuatannya adalah merawat orang, dan jika hendak diwujudkan dalam bentuk peran/job salah satunya adalah profesi perawat.

Contoh lain, bakatnya sama-sama empati, minatnya adalah kegiatan sosial, kekuatannya adalah melayani orang lain, salah satu kemungkinan perannya adalah menjadi relawan. Dan masih banyak contoh lainnya.

(3) Portofolio (bahasa sederhananya dokumentasi/rekam jejak aktivitas anak) sangat perlu dan sangat penting untuk membantu bunda membaca pola dan memetakannya.

(4) Jika sudah remaja atau bahkan dewasa, cara singkat yg paling mudah adalah dg menggunakan tools pemetaan bakat, sebagai acuan bagi Bunda untuk mendampingi pengembangannya lebih lanjut. ✅

23. Terima kasih bunda Rahma. Waaah pertanyaannya tentang anak saya 😳

Tahapan yg kami lakukan sama seperti yg saya sampaikan sebelumnya. Sedikit ‘terlambat’ karena saya mengenal Talents Mapping saat kakak berusia 6 tahun.

Saat ini keluarga kami sedang mengalami 2 fase pemetaan bakat, yakni fase eksplorasi untuk anak-anak 0-7 tahun, dan fase pemetaan awal untuk usia 7-10 tahun.

Untuk 0-7, anak-anak belajar dg mencoba beragam aktivitas.

Untuk anak yg usianya di atas 7 tahun (Taqiyya 8th) kami bersama-sama menyusun personal curriculum terkait dg potensinya. Kebetulan ia sangat suka membaca, apapun. Dan salah satu potensi kekuatannya adalah komunikasi. Saat ini salah satu aktivitasnya adalah berlatih membuat karya tulisan/video mengenai buku yg ia baca. Untuk mendukung aktivitas ini, kami membuat short course sederhana tentang fotografi dan videografi untuk anak bersama teman-teman di komunitas.

Selain itu, masih tentang tema komunikasi, ia sedang rajin berlatih berkomunikasi secara tertulis dalam bentuk karya cerita fiksi. Aktivitas lain kami dokumentasikan di IG saya @iing_fitria dan sebagian aktivitas eksplorasi kami upload di halaman FB CBE Diponegoro (bersama teman-teman di komunitas):

https://www.facebook.com/cbe.diponegoro/

Jadi bisa dibilang pendampingan saya ini belum ‘terbukti’ yaa 😂

Kami masih terus belajar, dan berusaha mempraktikkan apa yg kami pelajari secara bertahap. Bagi kami, masa depan apakah ia sukses atau tidak, adalah bagian dari takdir Allah. Selebihnya, kami sangat bersyukur bisa menjalaninya dg rileks, antusias dan bahagia 😇 ✅

Talents Mapping adalah istilah yg dikenalkan Abah Rama Royani sebagai salah satu metode pemetaan bakat.

Bisa cek disini penjelasannya:

http://temubakat.com/leadpro/?p=read/talents-mapping

Ayah Bunda,

Barangkali panjangnya diskusi kita dalam grup ini masih jauh dari cukup sebagai bekal Ayah Bunda melangkah, mendampingi ananda menemukan potensi dirinya. Semoga rasa belum cukup ini melecutkan semangat kita untuk terus belajar, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun.

Ayah Bunda sekalian,

Dalam proses menemukan bakat, kita dapat mengawalinya dengan mengamati *sifat* khas yang secara natural melekat pada diri anak. Selanjutnya, untuk dapat mengembangkan sifat tersebut sebagai sesuatu yang bersifat produktif, maka kita perlu mengarahkan sifat tersebut ke dalam *aktivitas* yang relevan dengan sifat khas tersebut. Selanjutnya, Ayah Bunda dapat menerapkan kaidah 4E sebagai langkah pengamatan dan stimulasi. Sebuah aktivitas dapat disebut aktivitas yang produktif jika nak melakukannya dengan Enjoy (mengasyikkan), Easy (mudah dilakukan), Excellent (Mahir dilakukan), dan Earn (menghadirkan manfaat).

Bagaimana dengan kelemahan? Dalam kaidah Talents Mapping saya berpegang kepada pesan guru saya Abah Rama Royani, _*“Fokus pada Kekuatan, Siasati Kelemahan”*_

Ayah Bunda sekalian,

Perlu saya sampaikan kembali, bahwa berbicara bakat anak pada hakikatnya adalah bicara bagaimana kita menerima anak dengan tulus, dengan penerimaan yang seutuhnya. Ikhtiar mengenali bakat anak, sejujurnya adalah proses menggali bibit unggul yang Allah bekalkan dalam dirinya. Dan dalam perjalanan nantinya kita akan mendapati, bahwa kita lah sejatinya yang harus banyak belajar. Belajar ilmu baru, belajar mengamati, belajar mendengarkan feedback dari anak-anak…dan kadang…belajar menahan diri 😊

Tidak perlu tergesa ingin ananda segera memanen hasil dari bakat ananda. Lakukan penahapannya, insya Allah bakat-bakat itu akan nampak dan menguat di saat yang tepat. Rasakan bahwa menerima bakat sebagai bekal langsung dari Allah akan membuat kita semakin rileks dalam mendidik anak. Tentu atas pertolongan Allah, maka tak hentilah memohon kepadaNya.

Terima kasih Ayah Bunda, apalah saya ini seorang fakir ilmu yang sedang terus belajar. Oleh karenanya, mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan. Sampai jumpa di kesempatan yang lainnya 😊

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh 😇😇

Resolusi Pengasuhan 2018

Berbagai kegiatan dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi pergantian tahun.

Terpikir oleh saya dengan semua perkembangan situasi akhir akhir-akhir ini untuk mengajak diri saya, keluarga saya dan anda. Maka mari bersama kita rumuskan resolusi pengasuhan untuk tahun ini, 2018.

Berita yang paling mencuat diakhir tahun ini yang sangat mengguncangkan hampir semua keluarga adalah berita berita yang berseliweran tentang meluasnya LGBT dan zina akibat ditolaknya permohonan sahabat sahabat saya dari AILA, yang berjuang meminta adanya Judicial Review di MK, terhadap beberapa pasal dari KUHP kita yang sudah terlalu tua untuk disesuaikan dengan kenyataan yang ada sekarang ini dimasyaraat kita. Saya tidak akan membahas hal tersebut karena sudah sangat banyak kita simak dari berbagai media terutama TV dan media social. Tapi saya akan mengajak diri saya dan anda untuk memikirkan langkah langkah kongkrit yang bisa dan harus kita lakukan di keluarga kita, segera.

Ajakan saya ini ini juga didasari dengan sangat kuat oleh data dari hasil penelitian yang kami lakukan hampir sepanjang tahun 2017 untuk mengetahui dampak kerusakan otak akibat pornografi terhadap anak dan remaja, yang insha Allah akan kami sosialisaikan diakhir bulan Januari yang akan datang.

Resolusi 1: Perkuat ketahanan Ayah-Ibu.

Selain dari tantangan terhadap pengasuhan anak anak kita, ketahanan terhadap eksistensi keutuhan ayah dan ibu tak kurang kurang di goyang berbagai godaan dizaman ini. Bagaimana kita akan berjuang melindungi anak anak kita kalau ayah dan ibu sendiri menghadapi masalah yang seperti tak berujung. Jadi mau tidak mau ayah dan ibu sebelum mampu menjalankan peran ‘mengasuh berdua’ saya himbau untuk berusaha sekuat tenaga menemukan dulu pokok masalah, berusaha untuk saling terbuka dan mengerti masa lalu dan pengaruhnya bagi kehidupan sekarang. Kita sedang berjuang mempertanggung jawabkan pengasuhan anak kita kepada Allah. Bila ayah – ibu sudah mampu bersatu dan kokoh maka ayah ibu harus segera membuat list apa yang perlu diperbaiki, ditingkatkan dalam hal pengasuhan untuk masing masing anak agar tangguh hidup di era digital ini .

Masing masing ayah dan ibu membuat 3 hal saja yang perlu diprioritaskan ditahun ini untuk masing masing anak.Kemudian gabungkan hasil ayah dan ibu dan terakhir pilih lagi hanya 3 saja minimal untuk di perbaiki dan disempurnakan 6 bulan kedepan. Setelah itu, dijadwalkan topik pembahasannya dan siapa penanggung jawabnya. Bila 3 hal ini telah teratasi maka nanti bisa dijadwalkan 3 hal lainnya untuk waktu berikutnya dengan proses yang sama. Dengan begitu insha upaya yang kita lakukan akan terukur dan bisa dievaluasi. Semua upaya ini harus disesuaikan dengan usia, tingkat kecerdasan dan keribadian masingmasing anak.Dalam hal ini semua haus dipimpin oleh ayah. Peran ayah dalam pengasuhan semakin kritis dan mutlak diperlukan dalam keadaan yang semakin genting sekarang ini. Kurangnya peran dan kehadiran ayah dalam pengasuhan justru sangat signifikan menjadi penyebab dari berbagai masalah moral dan spiritual yang kita hadapi sekarang ini.

Resolusi 2: Menyicil “hutang jiwa” dan merumuskan ulang Tujuan Pengasuhan .

Kalau kita berhutang di bank harus kita cicil begitu jualah hutang jiwa pada anak anak kita. Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pengasuhan anak kita, tak bisa tidak kita harus berusaha mencicil dulu “hutang hutang jiwa” yang kita buat tak sengaja sepanjang pengasuhannya ditahun tahun yang lalu. Ayah ibu harus bekerjasama menutup lubang lubang pengasuhan ini, dengan lebih banyak memberikan perhatian dan kasih sayang, kesempatan untuk bersama, mendengarkan perasaan anak, berdialog tentang kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi. Jangan lupa bahwa Tujuan utama pengasuhan adalah untuk menjadikan anak anak kita menjadi penyembah hanya Allah saja.Mereka bukan saja harus mengerti tentang berbagai aturan dasar agama tetapi juga senang menjalankannya dan bisa menerapkan batas batas yang boleh dan tidak, yang haram dan halal.

Tujuan lainnya adalah bagaimana secara bertahap sesuai dengan usianya anak memiliki kualitas untuk menjadi calon suami istri dan ayah ibu. Sederhana saja, mulailah dengan bertanggung jawab dengan diri sendiri dan punya empati pada orang lain. Bagaimana anak bisa menunjukkan semua hal diatas, kalau kita sekarang mengabaikan perasaannya. Hal lainnya akan berjalan sesuai usia. Tujuan pengasuhan lainnya adalah membantu anak untuk menjadi professional dengan sukses ditiap jenjang pendidikan dan seperti yang ditentukan oleh agama kita bahwa setiap manusia itu harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya serta bermanfaat bagi orang banyak.

Resolusi 3 : Komunikasi yang benar, baik dan menyenangkan.

Kemampuan berkomunikasi adalah salah satu kemampuan yang sangat dibutuhkan dimasa depan, dimana kini komunikasi tersebut telh sangat diringkas dan di”hemat” dengan adanya perangkat teknologi komunikasi. Tetapi komunikasi tatap muka tak bisa dihilangkan begitu saja dan menjadi hal yang penuh tantangan untuk dilakukan dimasa depan, karena sekarang antar kamar saja anak dan ortu berkomunikasi lewat wassap atau sms!.

Kitab suci kita sudah merumuskan aturan baju tentang berkomuikasi yang benar. Biasakanlah untuk tak kehilangan komunikasi tatap muka, bicara baik baik dan berkata benar, bicara dengan kasih sayang, bicara dengan lemah lembut dan dengan suara yang rendah, karena dengan suara tinggi dan besar adalah suara Himar.Komunikasi juga harus mengindahkan kaidah cara kerja otak. Hanya kombinasi agama dan cara kerja otak itulah komunikasi bisa menyenengakan dan mengikat hati dan rasa antar ayah ibu dengan anak anak dan antar anak dengan saudara dan teman2nya.

Resolusi 4: Mengajarkan agama sendiri.

Kewajiban kita pada Allah sebagai “baby sitter”Nya adalah memperkenalkan Allah,RasulNya dan kitabNya serta berbagai aturan dalam kitab suci kita secara langsung pada anak anak kita.Kalau dasar pengetahuan kita kurang, itulah yang harus kita upyakan untuk ditingkatkan terlebih dahulu. Tidak ada salahnya dan tidak usah malu bila kita harus belajar “bersama” anak, karena itu lebih benar dan mulia dibandingngkan mensubkontrakkannya ketangan orang atau institusi lain. Kita perlu memantau pemahaman dan pengetrapannya sepanjang kehidupan mereka sehari hari. Ya keimanannya, ibadahnya, amalan hariannya , akhlaknya adalah tanggung jawab utama kita. Buat kerangkanya untuk masing masing anak sesuai usia, tempel ditempat yang sering terlihat agar mudah teringat, dan berusaha melaksanakan dan mengevauasinya.

Kita tidak perfect, jadi jangan berharap anak kita perfect. Pendidikan itu perlu proses. Prinsipnya yang penting SUKA bukan BISA saja. Kalau suka , anak mengerjakan perintah Allah sebagaimana semestinya, bukan hanya BISA melakukannya ketika kita ADA saja!.

Resolusi 5 : Persiapkan anak Baligh.

Karena makanan yang bagus dan rangsangan juga “bagus”, anak kini baligh lebih cepat dibandingkan masa kita remaja dulu. Jadi jangan pernah berfikir “Ah masih lama!”. Tanggung jawab persiapn baligh ini tidak sederhana dan tidak bisa dianggap sepele. Karena begitu anak baligh yang artinya dia telah “sampai” ketahapan dewasa, berarti hukum agama sudah berlaku baginya. Dia sudah dewasa!. Akhirnya khusus untuk anak laki laki, kita abai. Padahal mereka adalah target pebisnis Narkoba dan pornografi!. Orang tua sudah harus mempersiapkan anak pelan pelan dengan penjelasan yang sederhana apa yang akan dihadapi anak pada masa pubertasnya sejak diatas usia 7 tahun. Dari segi ibadahnya,menjaga tubuhnya, berpakaian, pisahkan tempat tidurnya, pergaulan dengan keluarga maupun teman dan sekitarnya dan berbagai adab hidup lainnya.Jangan hanya fokus pada reputasi akademis saja, karena kerusakan otak akibat pornografi tak bisa dilihat dari terganggu atau tidaknya prestasi akademisnya, tapi pada kehidupan emosinya dan spiritualnya!.

Resolusi 7 : Bijaklah berteknologi.

Mengejutkan sekali data yang kami peroleh dari angket yang kami sebarkan dibeberapa propinsi sejak pertengahan tahun 2017 ini, bahwa kecenderungan orang tua memberikan gadget dan social media semakin membenkan diusia semakin muda. Ada beberapa kota dan kabupaten tertentu yang persentase pemberian gadget pada anak BATITA DAN BALITA lebih tinggi dari pada anak SD!.

Kami kawatirkan hal ini terjadi karena orang tua benar benar LATAH, memberikan gadget pada anak karena anak orang lain punya . Tapi lebih menyedihkan lagi kalau pemeberian itu karena orenga tua NGGAK MAU REPOT ngurus anak yang ‘lasak/aktif dan menangis/ rewel atau yang lebih parah karena mereka tidak mau terganggu dalam membaca dan membalas pesan2 teman dari berbagai grup yang dia miliki.

Andai saja para orang tua ini tahu akibatnya bagi otak anak itu, gangguan pada mata, jemari, tulang belakang, perilakunya, dan keberhasilan hidup secara emosional dan spiritual dan betapa repot dan ruginya mereka nantinya, pasti mereka berjuang untuk menunda memberikan perangkat canggih itu pada anak anaknya.

Kendali ini letaknya pada ayah. Berilah anak perangkat teknologi sesuai dengan para penciptanya memberikan pada anak anak mereka 12- 13 tahun. Dan mulai denga perangkat yang sederhana fungsinya.Pemberian perangkat canggih ini tidak bisa tidak harus dengan penjelasan akan fungsi dan bahayanya, aturan yang harus dibahas dan disepakati bersam dan merumuskan konsekuensinya bial dilanggar. Itu saj juga tidak cukup, tpi harus disempurnakan dengan pendampingan , dialog dan diskusi dan pembuatan peraturan berikutnya sesuai dengan meningkatnya usia. Ayah ibu harus menjelaskan pada anak bahaya pornografi, kriminalitas, berbagai jenis narkoba dan kemungkinan kejahatan melalui perangkat tersebut dan bagaimana menghindarinya dengan cara melakukan “bermain Peran” atau Role Play.
Menyedihkan sekali menemukan fakta dari kegiatan kami, anak anak yang diberikan HP pada usia muda, ternyata mengakses pornografi mulai jam 10 malam sampai dini hari…

Sekali lagi ayah bunda, anak anda generasi Millenials dan generasi Alpha (lahir diatas 2010!), tantangannya luar bisa.

Selamat berjuang, Tawakkal dan selalu minta petunjuk Allah dan perlindungannya dan selalu baut semua usha dengan doa yang tiada putus.
Insha Allah!

Menyambut tahun baru Masehi 2018
Elly Risman
# ParentingEraDigital
Silahkan share bila dianggap perlu

🙏🏻Bismillah🙏🏻
Assalamu’alaikum! 🤗
Halo, teman-teman semua~~~

Awal tahun baru biasanya menjadi momen untuk menyusun rencana dan target-target yang ingin dicapai selama setahun kedepan. 2⃣0⃣1⃣8⃣

Nah, untuk membantu kita merencanakan target-target itu, *2018 MUSLIM PLANNER* hadir untuk membantu kita mencapai target dunia maupun akhirat.
🤩 _InsyaAllah_ 🤩

Hmm terus, apa aja sih isi planner muslim jaman now ini? 🤔🧐 Nih, cekidot:

✅ My Self Potrait
✅ Biodata
✅ My Family
✅ Reasons Why I Am Awesome
✅ Kalender 2018
✅ Kalender 2019
✅ Kalender Puasa 2018
✅ Life Plan (Rencana Usia 21-60 Tahun)
✅ Yearly Goals
✅ Monthly Spread
✅ Weekly Schedule
✅ Daily Activities
✅ Jadwal Kajian
✅ Du’a List
✅ Kalender Cuti Liburan 2018
✅ Places to Travel
✅ Financial Report
✅ Books to Read
✅ Must Have Items
✅ People That Inspire Me
✅ Family & Close Friends Milad
✅ End-of-Year Evaluation
✅ Notes

Kabar baiknya, planner ini dibagikan secara cuma-cuma loh. 🤑

Yup, *FREE for PERSONAL USE ONLY* yes.

Cara dapetnya gimana dah? 🤨
Langsung aja klik linknya di bawah ini.
⬇⬇⬇⬇⬇

https://drive.google.com/drive/folders/1kxHuN8Sj6Cl1kxJnabWBcoC5uraeowOm?usp=sharing_eil&ts=5a49d364

Planner ini ada dalam bentuk pdf dan jpeg lho.

Setelah di-download ⬇ tinggal di-print 🖨 aja deh. Happy planning!💡💡💡

Semoga bermanfaat ya dan semoga semua hal yang ingin kita raih di tahun ini bisa terlaksana. 😎
🙏🏻 _Aamiin_ 🙏🏻

Oh iya, silahkan dibagikan ke teman-teman yang lain ya. Supaya semakin banyak orang yang bersemangat mengejar impiannya.
Demi masa depan yang lebih baik. ✊🏼✊🏼✊🏼

Jazakumullah 😊
JANGAN MENYURUH ANAK ANDA MENJADI JUARA KELAS
(Because everybody has different passion)

Keluarga kami menghabiskan liburan akhir tahun di Danau Toba, sambil memperkenalkan indahnya tanah air kepada anak anak kami.
Di sana kami berjalan-jalan beraama seorang sahabat kami, sebut saja namanya Dokter Jonathan (kami memanggilnya Jo), seorang dokter yang berdomisili di Medan dan memiliki sebuah Rumah Sakit di sana.
Kebetulan saya mengenalnya sejak 30 tahun yang lalu, dan saya mengaguminya karena idealismenya. Jo seringkali mengoperasi anak-anak dengan cacat bawaan sejak lahir.
Sudah tak terhitung berapa anak yang sudah terselamatkan oleh tangan-tangan terampilnya.

Yang lebih mengagumkan lagi, Jo tidak hanya mempunyai prestasi hebat bagi dirinya sendiri. Istrinya (yang juga seorang dokter) pernah menjadi Dokter Teladan Nasional.
Anak-anaknya semuanya mengikuti program akselerasi.
Anak pertamanya, sudah lulus SMA pada usia 15 tahun dan menjadi Dokter Umum pada usia 21 tahun.
Anak keduanya sudah lulus dari ITB Teknik Informatika pada usia 19 tahun dan sebentar lagi akan berangkat ke Jepang untuk bekerja di sebuah perusahaan IT ternama di sana.
Anak ketiganya juga sebentar lagi akan lulus SMA pada usia 15 tahun dan akan segera memulai kuliahnya.
Saya pun terkagum-kagum dengan prestasi mereka sekeluarga.
Dan saya pun bertanya, apa sih rahasia kesuksesan mereka?

Pagi itu Jo menyetir sendiri Alphardnya mengantarkan kami dari Berastagi ke Taman Simalem Resort untuk melihat Danau Toba dari kejauhan.
Jo memulai ceritanya,”Anak saya mungkin bukan yang paling cerdas. Dan kemudian kuncinya adalah, saya tidak pernah menyuruh mereka menjadi juara kelas. Saya bilang kepada mereka bahwa ada beberapa mata pelajaran yang saya memperbolehkan mereka untuk hanya mendapatkan angka 6. Tetapi mata pelajaran yang menjadi passion mereka dan akan penting bagi mereka, mereka harus berusaha sekeras-kerasnya dan mencapai nilai yang maximum!”

Maksudnya?
Jo pun meneruskan …
Kita sudah banyak mendengarkan cerita bahwa banyak sekali teman teman kita dulu yang rangking 1 ternyata setelah bekerja tidak berprestasi. Bahkan teman-teman yang berprestasi di rangking menengah justru berprestasi bagus di pekerjaannya.
Mengapa demikian?
Seorang juara kelas adalah seorang yang mempunyai nilai baik di semua mata pelajaran. Memang itu baik pada saat kita masih sekolah atau kuliah.
Tetapi di tempat pekerjaan, pernahkah anda melihat seorang executive yang hebat di kariernya, menjadi juara olahraga, juara lomba seni dan menjadi yang terbaik dalam ilmu agamanya? Menjadi yang terbaik dalam empat hal sekaligus atau mungkin malah lebih dari empat hal? Gak ada , atu gak mungkin kan?
Paling menjadi yang baik dalam hal dua hal saja, tidak tiga atau empat hal.
Apa artinya? Artinya kalau kita menyuruh anak kita menjadi juara kelas, kita akan menyuruh anak anak kita untuk mencapai nilai yang baik dalam semua mata pelajaran.
Berarti mereka gak akan menjadi yang terbaik dalam bidang apapun dalam pekerjaan mereka nantinya, mereka hanya bisa menjadi Mister Average (rata-rata) dalam banyak hal.
Ingat bisnis dan karier anda tidak akan pernah menghargai orang yang berprestasi rata-rata.
Mereka hanya menghargai yang berprestasi terbaik.
Jadilah yang terbaik, dalam satu bidang saja, tapi tekuni dan bekerja keraslah, niscaya anda akan sukses kelak nantinya!

Jadi Jo hanya menyuruh anak-anaknya fokus pada pelajaran yang mereka sukai, di mana mereka mempunyai passion.
Jo tidak menuntut mereka menjadi juara kelas.
Jo bahkan tidak menyuruh mereka ikut program akselerasi,
mereka ikut atas inisiatif sendiri
Jadi anak-anaknya Jo memang mendapatkan nilai hanya 6 atau 7 di beberapa mata pelajaran, tetapi di pelajaran yang mereka sukai mereka mendapatkan nilai maximal.
Kebetulan anak pertama menyukai matematika dan biologi, maka dia memilih untuk masuk Kedokteran pada usia 15.
Anak kedua menyukai matematika dan fisika , dan akhirnya masuk Teknik Informatika ITB, juga di usia 15.
Saya membayangkan betapa “ramainya” raport mereka yang ada enamnya, ada tujuh, ada delapan , ada sembilan.
Sementara orang tua yang lain menuntut anaknya mendapatkan nilai maximal di semua bidang.

But may be Jo is right, look at where he is now, and where his children are now…
Saya yakin kita bisa belajar dari cara Jo mendidik anak-anaknya.
Pada saat mereka dibebani kurikulum yang berat, dengan jumlah mata pelajaran yang banyak banget (seriously for what?)
Mungkin sebaiknya kita tidak menuntut mereka berprestasi maximal di segala bidang.
Ingat anda tidak ingin mencetak generalist, anda tidak ingin mencetak Mr Average.
Ingat anda ingin mencetak mereka menjadi yang terbaik. Dan anda tidak bisa mengharapkan mereka menjadi yang terbaik dalam segala bidang (kasihan banget!)
Ingat kan, tidak ada Direktur Utama yang juara olahraga, juara seni dan sekaligus terbaik dalam hal agama.
Pasti mereka menjadi yang terbaik dalam satu atau dua bidang saja kan?
Nah! Itu yang dimaksud Jo!
Bantu anak anda menemukan passion mereka, dan tuntut mereka untuk bekerja keras dan menjadi yang terbaik dalam hal itu!

It worked for Jo, it worked for Jo’s wife, it worked for Jo’s children.
I am sure we can learn from them!

How to do it?

1. PASSION: Help them to find their passion

What do your children enjoy doing? Keep trying. Coba dan explore. Experiment. Kalau tidak passion di satu bidang coba lagi yang lain, sampai akhirnya ketemu bidang yang dia sukai.

2. PATH

Help them to Create their own (unique) path to achieve their dream.
Bahwa ada seribu jalan menuju ke Roma.
Mengertilah bahwa passion dan juga path mereka menuju sukses akan berbeda beda.
Jangan menyuruh anak anak anda untuk mengikuti jalur yang sama. Hargai perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain.
Jalan yang baik buat satu anak anda belum tentu menjadi jalan yang tepat buat anak yang lain.

3. PROCESS

Help them to understand that it will take a long process, persistence and perserverance to get there .
Setelah mereka menemukan passion dan membangun path mereka, merek harus mengerti bahwa prosesnya itu mereka tetap harus bekerja keras.
Jangan sampai mereka terbuai dengan mimpi mereka, tapi terus terusan bermimpi.
Sampaikan pada mereka bahwa kerja keras adalah jembatan antara mimpi mereka dan realitas yang akan mereka capai.

4. PERFORMANCE

They have to perform at their best in what they do!

Sampaikan pada mereka, kompetisi di masa depan akan semakin susah.
Mereka harus mencapai yang terbaik untuk memenangkan kompetisi, menjadi yang terbaik, dan mendapatkan kehidupan yang layak dan menyenangkan!

5. Celebrate at the PEAK
Jangan lupa reward, celebrate dan memberikan hadiah pada mereka pada saat mereka mencapai keberhasilan!

Ingat, untuk meyakinkan bahwa anak anak anda berprestasi maximal, di sekolah, dan di karier mereka nanti, lakukan kelima langkah ini ….

1. Help them to find their PASSION
2. Help them to build their own PATH
3. Tell them about the long and tiring PROCESS that they have to go through, build the persistence and perserverance to get there .
4. Ask them to produce their best PERFORMANCE when they do things according to their passion
5. Celebrate at the PEAK
Reward dan beri hadiah ke
mereka pada saat mereka mencapai keberhasilan.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Sent from my iPhone
[1/8, 9:52 PM] ‪+62 852-9005-5988‬: “Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya.
Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz.
Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah.
Tuntas 30 juz.
Tapi …
saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu.

***
Fitrah keimanan (dibahas saat workshop) yg harusnya ditanam di 7 tahun pertama hidupnya ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus “restart” dari awal untuk mengulang proses yg terlewat”.
Hmm,,, Jazakumullah khairan katsira nasehat berharganya pak,
Satu hal lagi yg saya dapat saat mengikuti worshop home education based fitrah and tallent di semarang bbrp waktu lalu bersama ust harry.
Didiklah anak sesuai fitrah.
Fitrah apa?
Ada bbrp fitrah.
Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas?
Wow, , ,
gimana itu?

***
Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.
Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.
Jika ia laki2, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki2.
Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?
Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.

***
Usia 0 – 2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.
Menyusui, bukan memberi asi.
Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.

***
Usia 3 – 6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
Perbanyak aktivitas bersama.

***
Usia 7 – 10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.
Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya.
Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya.
Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.
Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.
Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya.
Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.

***
Usia 11 – 14 tahun
Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
Lintas gender.
Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya.
Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

*
Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain.
Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.

Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
Logis juga sih.

Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya.
Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya.

Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti.
Bisa kakek, atau paman.
Sama dengan rasulullah.
Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.
Ada kakek dan pamannya.
Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

***
Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh
Artinya anak kita sudah “bukan” anak kita lagi.
Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.

Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2, karna kita hanya punya waktu 14thn saja.
Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman2.

Moga allah mampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.

Semoga bermanfaat

Penulis : Euis Kurniawati

End of 2017

Mengakhiri tahun 2017, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke daerah Pematang Siantar, tujuan utama adalah menghadiri resepsi pernikahan ponakan. Dari medan kami memulai perjalanan pukul 8.30. molor 1 jam dari rencana semula yg berencana berangkat jam 7 pagi. Masuk tol Tanjung Mulia – Tanjung Morawa. Dan masuk lagi ke tol Lubuk Pakam, Deli Serdang, keluar di Sei Rampah. Biaya tol Pakam – Rampah adalah idr 29. Pemandangan bagus dan memanjakan mata; sawah-sawah hijau terhampar, bagai permadani di kaki langit (contek lagu tasya). Di tol Tanjung Morawa, Nauman bobok, disusul Rahman. Abang Lintang masih bertahan hingga keluar tol di sei rampah. Sebelum keluar tol, antri lumayan panjang. Tapi ada mesjid yang bagus sekali. Serasa mengambang di air.

Kami berhenti untuk makan siang di kota Tebingtinggi. Ada restaurant india yang recommended di jalan Medan – Tebingtinggi. Menu martabaknya endang boww.. ada martabak india, martabak mesir, dan martabak kairo. Martabak Kairo sih menurut saya rasanya mirip dengan martabak mesir. Juga ada berbagai menu mie dan nasi goreng. Menu dimsum juga ada. Tapi menurut saya, dimsum di Restaurant Nelayan belum ada tandingannya.

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Kota Siantar. Kami hunting penginapan cukup lama. Sebenarnya beberapa hari sebelum berangkat saya dan pak su sudah mulai menghubungi beberapa hotel, tapi sudah fully booked semua. Maklumlah, sudah long weekend, akhir tahun pulak. Jadi kita nekad aja ke Siantar, dengan harapan kalau walk in hotelnya masih punya persediaan kamar. Ternyata hotel yang rada lumayan bagus sudah habis; Grand Mega Hotel, Siantar Hotel. Kita pun tanya mbah google, diinfo oleh mbah google satu penginapan syariah, yaitu Hotel Maharani.

Ya sudahlah, karena sudah capek muter-muter kota siantar, anak-anak juga sudah mulai rewel. Diputuskan malam itu kami menginap di hotel Maharani. Kami ambil kamar yang rate nya idr 300 per malam. Termasuk kamar level tinggi di hotel ini, mengingat mereka masih punya rate seharga idr 150.

Secara kasat mata suasana hotel ini bagus, bersih, pelayanan receptionist pertama pun ramah. Area nya luas, anak-anak bebas berlarian tanpa takut ada kendaraan yang lewat dan membahayakan. Salahnya hanya satu, kami tidak mendapatkan sarapan pagi, dengan alasan katering yang biasa mereka pakai sedang liburan akhir tahun. Jengkel lah awak, itu bukan alasan yang bagus. Pan dia bisa cari pengganti sarapan buat tamu-tamunya. Beli lontong kek, nasi gurih kek.. uughh kalau inget itu masih gemes-gemes nanggung.

Setelah sholat Ashar, kami pun bersiap-siap untuk menghadiri resepsi pernikahan ponakan. Ya ampyuunnn, ternyata tempatnya jauuuhhhhh mak… Bertolak dari hotel sekitar jam setengah lima sore, ketemu TKP nya pas isya.. dah luntur mekap awak 😥

Nyampe hotel lagi udah malam, jam sepuluh lewat. Sebelum pulang ke hotel beli duren dulu. Tapi awak ga ikut makan, awak gak kawan ma duren. Hipertensi watching mak.

Besoknya, bawa anak-anak ke kebun binatang siantar. Sekalian check out hotel.

Gak lupa sekalian pulang beli burung goreng. Dan disempetin singgah makan siang lagi di restoran india Tebingtinggi.

Pulangnya masuk tol lagi di Sei Rampah. Tapi kali ini nyoba rute Sei Rampah – Kualanamu. Biaya tol kalau gak salah sih idr 41.

Demikian…

The Power of Bisik, Sstt…

Pernah dengar istilah di atas bunda-bunda saliha?

Hal ini berkaitan dengan parenting sebenarnya.

Saya teringat lagi dengan teori ini karena kemarin saya bahas lagi di WAG. Jadinya pengen nulis tentang ini.

The power of bisik. Pertama kali saya baca di blog ayah edy. (Eh blog apa bukunya ya?)

Bacanya sih dah lama. Tapi prakteknya baru kemaren ini.

Ceritanya si bungsu lagi sakit nih. Tapi duo abang tetep we ribut maen berantem-beranteman ala power rangers. Padahal adek Nauman lagi susah tidur dan maunya digendong terus, almost 24 hours. Sekalinya mau direbahkan di kasur, datanglah power rangers dengan segala macam ilmu olah kanuragannya, bikin emak sakit hati. Emak pun marah-marah gak jelas sama duo ranger biru dan ranger pink (entah kenapa rahman kok jadi ranger pink, keknya ini kerjaan abang Lintang, Rahman mah ikut-ikut aja biasanya, maklum, doi belum begitu paham).

Dimarahin gitu, rangers malah cekikikan, yang bikin emak tambah emosiong. Tak suruh keluar dari kamar, pintunya malah diketok-ketok. #tareknapas emak tambah galau.

Sambil teteup gendong Nauman, emak pun maen hempong. Buka- buka WAG, scroll-scroll ke atas, nemu lagi pembahasan power of bisik yang lalu-lalu.

Dengan sedikit pesimis, emak pun mo nyoba teori ini. (Teorinya sih dah lama dibaca, tapi baru kali ini mau dipraktekin sodara-sodara. Hellooooo kemana aja makkkk)

Singkat cerita, masih sambil endong-endong Nauman, saya panggil ranger biru dan pink mendekat, saya fokus ke ketua ranger, terus saya bilang gini,

ranger biru, boleh mama pinjem telinganya sebentar?”

Takut dijewer, tapi ranger biru tetep kasi telinganya ke emak, dan emakpun berbisik mesra,

Ranger biru, kalau lagi mengusir para monster, bisa suaranya kecil aja? Pake bisik-bisik aja kayak kita sekarang?, Soalnya adek Nauman lagi bobok)”

Ranger biru pun menjawab, “ok, dicopy mama bos”.

Weisss mantap kali jawaban ranger biru.

Adek Nauman pun bobok dengan puas di sebelah emak yang ikutan bobok, kecapekan ngegendong all night long.

The power of bisik berhasil dilaksanakan dipraktek pertamanya..

Boleh dicobakan lagi besok-besok ketika diperlukan.

Demikian cerita saya yang dibuat semampunya karena hari ini deadline.

Salam

LinRaNa Mom

Morning of Desember 21, 2017

Diet saya… Jilid 2

Sesuai dengan niat tempo hari,

Senin 13 November 2017

Diet GM saya mulai lagi. Alhamdulillah sukses di hari pertama. Saya puasa sunah hari senin, berbuka dengan semangka. Separuh bagian semangka itu saya makan semuanya sendiri.

Selasa, 14 November 2017

Hari kedua diet GM, diawali dengan segelas besar air putih, dan sarapannya adalah sepiring sayur, tumis kangkung yang saya buat sendiri, habis tiga iket buat saya sendiri. Tau lah gimana kangkung, pas belum dimasak banyaknya masyaAllah. Tapi pas udah dimasak menyusut banyak. Maap gak sempat dipoto, awak kelaparan, gak inget buat potopoto, keburu ludes 😋.

Hari ketiga dan seterussnya… Hiks…

The end.. 😥

Diet saya… Jilid 1

Buibu, udah pada tahu kan, berbagai macam diet yang ada di muka bumi ini (hihi). Ada diet mayo, ndak mengkonsumsi garam, diet OCD yg punya jam tertentu untuk makan dan puasa, diet GM alias General Motor yg boleh dilakukan hanya 7 hari saja dalam sebulan, dan yang lagi trend nih, diet keto, yang hanya mengkomsumsi lemak, no carbo.

Saya, sebagai emak-emak yg ingin tampil cantek dan bohay supaya pak su tambah cintah, pun pengen diet. Apalagi udah tambah umur, perlu jg nurunin BB supaya penyakit enggan merapat. Pengen lakuin pola hidup sehat, pola makan sehat, maklum penyakit warisan ada beberapa nih yang mengintai.

Nah, setelah ditimbang-timbang, akhirnya happy ending, eh, maksud saya akhirnya saya putuskan utk mencoba diet GM. Why? Karena diet GM yang saya rasa paling mudah, dan hanya perlu menjalani diet ini 7 hari dalam sebulan mak.. mudah kan ?

Saya pun interview mbah gugel, cari info about menu diet GM.

http://resephariini.com/cara-melakukan-diet-gm/

Kebayangkan mak, betapa gampilnya

Nah, hari pertama, hanya makan buah. Buah aaaapa aja boleh kecuali pisang. Saya pun mohon bantuan pak su tercinta untuk membelikan buah semangka berdaun sirih #eh, supaya saya bisa mulai dietnya esok hari.

Hari jumat, dan hari pahlawan 10 November 2017, awal yang baik untuk memulai suatu perkara positif.

Sarapan saya dipagi hari plus ngemil pas jam sepuluh pagi adalah semangga merah yg hmmmm nyam nyam… lancar dan mantap jiwa lah pokoknya. Tapiiiii, pada jam 11 pas waktunya baby nauman makan siang, diet saya gagal sodara-sodara 😪

Nauman makannya gak habis, dan saya tidak suka pemubadziran, terpaksa saya makan nasinya Nauman. 😑

#helanapas

Begitu lah ibu-ibu, cerita diet saya yang telah gagal di hari pertama.

Tapi saya tidak putus asa. Bukankah kegagalan itu adalah sukses yang tertunda?

So, saya sedikit terhibur, diet saya ndak gagal, hanya langsingnya rada tertunda. Dan senin besok akan saya mulai lagi.

Doakan saya ya…

Salam

Emaknya Lintang 😘

P.s ingat sumur di ladang,